Tunas Muhammadiyah Bertumbuh di TM2 IPM Jepara

Tunas Muhammadiyah Bertumbuh di TM2 IPM Jepara

Jepara -Tunas harus bertumbuh, menggantikan daun dan ranting yang bersiap gugur menemui taqdir alamiahnya. Begitulah metafora Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Dia laksana tunas muda yang bersiap melanjutkan kepemimpinan masa depan. Dan Pelatihan Kader Taruna Melati, adalah ruang untuk bersemainya tunas itu. Digelar dengan sukses, Pelatihan Kader Taruna Melati 2 (PKTM 2) Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Jepara berlangsung dinamis. Acara dilaksanakan 4 hari, Kamis – Ahad (27-30/12/18). Dimulai motivasi peserta dibekali fondasi berfikir dengan sudut pandang Agama. Ustadz Nor Wakhid Dalam sambutan pembukaan menyampaikan pentingnya menyiapkan kader-kader handal yang siap melanjutkan estafet perjuangan yang penuh tantangan ini. “Nilai-nilai profetik (kenabian) harus ditanamkan pada diri kader IPM, sehingga mereka menjadi kader mantap Agamanya tetapi juga peka terhadap masalah di lingkungan sekitarnya” jelasnya.

Bertemakan ‘Revitalisasi Kader IPM melalui Nilai-nilai Profetik Wujudkan Pelajar Islam Berkemajuan’. Pelatihan itu diikuti 27 peserta. “Mereka berasal dari beberapa kecamatan di Jepara, namun ada juga yang berasal dari luar Jepara yaitu Purwodadi” kata Fariz, ketua panitia pelaksana. Kegiatan berlangsung selama 4 hari (27-30/12) di SD Muhammadiyah Blimbingrejo Nalumsari Jepara.

Sementara itu Ivan Nur Rahman Ketua PD IPM Jepara yang sekaligus menjadi Master Of Training (MOT) dalam acara ini memaparkan bahwa TM2 kali ini menjadi ajang mewujudkan kader IPM Jepara yang mampu dan peka terhadap permasalahan pelajar dan bisa mengakomodir kepentingan di ranting atau cabang masing-masing

“Harapannya ada tindak lanjut yaitu peserta cakap menulis gagasan intelektual yang solutif dan akhirnya menjadi penerus kepemimpinan IPM Jepara di periode mendatang” terangnya.

TM2 kali ini merupakan kali pertama PD IPM Jepara mengadakannya secara mandiri. Pada periode sebelumnya kader IPM Jepara mengikutinya diluar Jepara. Acara ini juga menepis anggapan bahwa IPM di Jepara tidak mampu eksis.

“Dahulu tokoh Muhammadiyah di Jepara tidak ikut IPM karena kala itu IPM belum mampu menembus Jepara, malah pelajar Muhammadiyah mengikuti organisasi pelajar bukan IPM”.

ujar mahasiswa UMS ini

“Tokoh Muhammadiyah harus mendukung IPM dengan menganjurkan anak-anaknya untuk menghidupi IPM, bukan malah meninggalkannya dengan mengikuti organisasi pelajar lain, apalagi dengan memanfaatkan aset milik persyarikatan” tambahnya.

Beberapa materi keislaman diajarkan dalam TM2 kali ini, diantaranya Islam Agama tauhid, Islam dan peradaban keilmuan. Untuk pembekalan ideologi Muhammadiyah disampaikan tema materi diantaranya Muhammadiyah gerakan sosial keagamaan, Islam berkemajuan dan gerakan pelajar berkemajuan. Tambahan tema keilmuan ada analisis sosial dan pengantar filsafat. (Arief)

Terimakasih PII, Saatnya “Move On” ke IPM

Terimakasih PII, Saatnya “Move On” ke IPM

Oleh : Muh Arief Sitegar S.E.I., (Anggota Bidang Organisasi PW IPM Jawa Tengah)

Pelajar merupakan potensi luar biasa yang menjadi syarat utama suatu kemajuan. Dalam sejarah Indonesia, bangsa menjadi sadar akan penindasan dan penjajahan tidak lain karena bangkitnya kaum terpelajar kala itu. Bagaimana kita melihat lulusan sekolah dokter menjadi pelopor berdirinya organisasi Boedi Oetomo sebagai wadah pencerdasan Masyarakat. Kesadaran dan pencerdasan ini yang menjadikan Soekarno dan segenap pendiri bangsa sepakat untuk merebut kemerdekaan Indonesia.

Muhammadiyah tersohor dengan kualitas dan kuantitas potensi lembaga pendidikan yang dimiliki. Mempunyai andil dalam memberi pengaruh terhadap peningkatan kualitas masyarakat. Dan keberlanjutan ormas raksasa ini harus di imbangi dengan pembenihan kader-kader yang kelak melanjutkan estafet kepemimpinan. Dinamika terjadi, sebagai lumrahnya organisasi terkadang Muhammadiyah merasa “kewalahan” untuk mendapatkan penerus yang mengerti arah tujuan serta ideologi Muhammadiyah.

Dalam konteks daerah, tidak semua tempat telah memiliki budaya pengkaderan ideologis yang mapan. Jumlah yang minor dan sumber daya terbatas menjadikan sistem perkaderan berjalan mengalir sederhana. Diperlukan wadah yang yang tepat dan tersistem untuk mewujudkan pendidikan ideologi Muhammadiyah yang mantap. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menjadi bagian yang di gagas untuk mewujudkan nya. Sementara itu pada masa tahun 80an ketika geliat IPM belum merata di daerah-daerah gerak organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) eksis di kalangan kader muda Muhammadiyah. Banyak anak-anak tokoh Muhammadiyah yang aktif bergerak di organisasi ini. Sebagaimana diketahui PII adalah organisasi Islam eksternal sekolah untuk para Pelajar hingga mahasiswa. PII adalah organisasi yang berasaskan Islam dan berdiri Independent (bukan merupakan Underbow dari Organisasi manapun). Bergerak dibidang pendidikan, non Partai (piijepara.blogspot.com). Kenyataan ini menjadikan PII sebagai organisasi terbuka dari banyak kalangan dan tidak berorientasi pada ideologi ormas tertentu termasuk Muhammadiyah.

Ideologi Muhammadiyah yang telah tertata seyogyanya dapat di tranformasikan kepada kader penerusnya. Urgensi pendidikan ideologis harus di wadahi agar hasil yang diharapkan dapat terwujud. Keberadaan IPM sebagai wadah bagi anak-anak tokoh Muhammadiyah maupun pelajar Muhammadiyah secara umum patut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Perlombaan eksistensi antara IPM dan PII di kalangan internal Muhammadiyah perlu disikapi dengan Arif. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) adalah sebuah taman untuk menyemai benih-benih perkaderan ideologis. Tidak tepat dan menyalahi aturan jika ada sebuah sekolah Muhammadiyah yang dengan fasilitas yang dimiliki malah digunakan untuk kegiatan perkaderan organisasi pelajar yang tidak terikat secara ideologi dengan muhammadiyah itu sendiri. Sebagaimana tertuang dalam Surat. Keputusan PP Muhammadiyah, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah No. 510/SK.PP/III.A/16/1997 tertanggal 3 Oktober 1997 tentang Qoidah Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah, Bab VI Pasal 24 dijelaskan bahwa:
“Pimpinan Sekolah/Pondok Pesantren/Madrasah Muhammadiyah berkewajiban membina Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang menjadi Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dalam Sekolah/Madrasah/Pondok Pesantren Muhammadiyah”, kemudian dalam Bab VIII Pasal 32 dituliskan bahwa, “Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di Sekolah/Pondok Pesantren/Madrasah Muhammadiyah adalah Ikatan Pelajar Muhammadiyah”.

Penamaan organisasi pelajar dilingkungan sekolah Muhammadiyah secara jelas telah disebutkan dalam SK Majlis Dikdasmen PP Muhammadiyah NO. 128 tahun 2008 Bab II tentang kedudukan organisasi otonom ayat 1 bahwa “Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah satu-satunya organisasi pelajar di lembaga pendidikan Muhammadiyah”. Jelas kiranya jika ada sekolah Muhammadiyah yang membuka pintu untuk kegiatan organisasi pelajar selain IPM adalah suatu penyimpangan terhadap kaidah organisasi.

Patut diakui bahwa gerak juang PII pada masa orde lama dan orde baru menjadi salah satu pemain utama dalam pergerakan Islam terutama untuk pelajar di Indonesia. Banyak jasa yang telah ditorehkan dalam upaya melawan faham komunis dan mencetak generasi unggul bangsa. Dan kita patut bersyukur dan berterima kasih atas perjuangan PII dalam mencerdaskan pelajar di Indonesia. Sudah saatnya tokoh Muhammadiyah “move on” dan saling bahu membahu membesarkan rumah asli pelajar Muhammadiyah yaitu IPM. Mengerahkan segala potensi sumber daya untuk menumbuhkan benih-benih penerus bangsa dan persyarikatan melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Kegelisahan ini muncul ketika ada oknum kepala sekolah Muhammadiyah di daerah Pantura Jawa Tengah yang dengan kuasanya mendukung kegiatan perkaderan organisasi pelajar bukan IPM memanfaatkan fasilitas milik persyarikatan untuk melakukan kegiatan perkaderan. Sehingga khalayak ramai bertanya apakah benar kepala sekolah tersebut tidak faham ideologi Muhammadiyah ?. Tentu tidak semudah itu untuk dapat menghakimi. Diperlukan suatu jalinan komunikasi yang baik untuk menyelesaikan masalah ini. Di lain daerah di Pantura tengah Jawa Tengah bahkan unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah yang mendukung kegiatan organisasi pelajar bukan IPM untuk melaksanakan perkaderannya di fasilitas persyarikatan. Dan karena merasa di naungi oleh tokoh-tokoh pimpinan maka dampaknya banyak kader muda Muhammadiyah yang harusnya menempuh pembinaam ideologi Muhammadiyah melalu IPM justru memilih jalur yang secara tegas tidak ada sangkut pautnya dengan Muhammadiyah. Pada akhirnya saling berkaca dan mengakui kekurangan yang dimiliki menjadi bahan muhasabah dalam melanjutkan tujuan dari didirikannya persyaratan muhammadiyah.(Arief)

PKM TM II IPM Pemalang Siap Hadapi Era Disruption

PKM TM II IPM Pemalang Siap Hadapi Era Disruption

ipmjateng.or.id, Pemalang – Baru-baru ini, Pimpinan Daerah (PD) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Pemalang melaksanakan kegiatan Pelatihan Kader Muda Taruna Melati II (PKM-TM II). Kegiatan yang dilaksanakan di komplek MI Muhammadiyah Pemutih ini dimulai sejak tanggal 22 hingga 25 Desember 2018.

PKM TM II yang bertemakan “Penguatan Tradisi Keilmuan, Militansi Kader Menuju Pelajar Solutif Berkarya Nyata” diikuti oleh 28 peserta dari Pimpinan Ranting (PR) dan Pimpinan Cabang (PC) se- Kabupaten Pemalang. Turut hadir juga PD Pemuda Muhammadiyah, PC Muhammadiyah, PC Aisyiyah, PR Pemuda Muhammadiyahdan PR Muhammadiyah pada saat pembukaan berlangsung.

Dalam PKM TM II ini peserta akan diberi beberapa materi diantaranya Islam Berkemajuan, Ke-Muhammadiyah-an, Gerakan Pelajae Berkemajuan, Logical Framework Analisis dan Peran Pelajar Mileneal di Era Disruption. Dimana salah satu pemateri dipandu oleh Ipmawati Rafika Ketua Bidang Perkaderan Pimpinan Pusat IPM 2016-2018.

“Kita sebagai Pelajar Muhammadiyah harus bisa beradaptasi dan menghadapi kemajuan di Era Disrupsion dimana jaman telah beralih ke teknologi dan jangan sampai peran kita sebagai manusia tergantikan oleh robot-robot”. Ujar Rafika.

Selanjutnya Ipmawan Rosyid selaku Master of Trainning (MoT) berharap kepada teman-teman yang mengikuti PKM TM II kali ini, bisa menambah tradisi keilmuan, militansi kader yang disiplin, siap dan tangguh dalam setiap mengemban amanah serta pelajar tersebut mampu menyelesaikan masalah dengan cara berkarya nyata.

Saat sambutan Ketua Umum PD IPM Kab. Pemalang Ipmawan Noval memberikan motivasi kepada peserta PKM TM II agar output dari pelatihan kader ini dapat terciptanya kader-kader militansi untuk regenerasi IPM dan Muhammadiyah kedepannya.

“Kedepannya setelah mengikuti kegiatan ini kami berharap kepada peserta untuk bisa membentuk komunitas-komunitas kreatif yang mampu melanjutkan perkaderan-perkaderan di organisasi yang kita cintai yakni Ikatan Pelajar Muhammadiiyah”. Pungkas Noval.

Disela-sela waktu kegiatan ini panitia juga adakan agenda kajian ayat Al-Qur;an dan Bedah Buku. Antusias para peserta sangan terlihat pada moment kali ini, terbukti salah satu peserta membedah buku tentang mahzab imam dan semua peserta memperhatikan dan mencatatnya. Imam.

Resmi: Kabupaten Tegal Terpilih Menjadi Tuan Rumah Musywil IPM Jateng Ke XXIII

Resmi: Kabupaten Tegal Terpilih Menjadi Tuan Rumah Musywil IPM Jateng Ke XXIII

Tegal-Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Tegal resmi terpilih menjadi tuan rumah Musyawarah Wilayah (Musywil) IPM  Jateng ke XXIII. Setelah melalui serangkaian proses seleksi penetepan tuan rumah Musywil. Kabupaten Tegal berhasil lolos seleksi dan resmi ditetapkan menjadi tuan rumah Musywil ke XXIII pada bulan desember ini.

Selain Kabupaten Tegal, beberapa daerah lain juga mengajukan diri sebagai tuan rumah Musywil IPM Jateng ke XXIII. Diantaranya adalah Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan dan Kota Surakarta.

Sedangkan untuk tanggal penyelenggaraan Musywil IPM Jateng ke XXIII masih belum ditetapkan secara resmi. ‘Kami masih melakukan koordinasi dengan tuan rumah untuk membahas dan menentukan tanggal resmi pelaksanaan Musywil IPM Jateng ke XXIII”, tutur Muhammad Iqbal selaku steering commite Musywil IPM Jateng ke XXIII. “Mungkin pengumuman tanggal resmi pelaksanaanya akan diumumkan pada tanggal 27 bulan ini” lanjutnya ketika dihubungi via whatsapp. (/han)

Theme Song Competition Musywil XXII IPM Jateng

Theme Song Competition Musywil XXII IPM Jateng

Persyaratan Umum

  • Peserta adalah Pelajar Muhammadiyah Jawa Tengah, dibuktikan dengan KTA IPM/Kartu Pelajar/KTM/KTP.
  • Karya yang dibuat merupakan karya sendiri, orisinil, dan belum pernah di publikasikan sebelumnya.
  • Karya tidak mengandung unsur pelanggaran hak cipta.
  • Theme Song competition ini tidak dipungut biaya.
  • Durasi Theme Song maksimal 5 menit
  • Karya yang sudah di kirimkan menjadi hak dan tanggung jawab panitia.

Tata Cara Pelaksanaan

  • Setiap Peserta diperbolehkan mengirimkan lebih dari 1 karya.
  • Menggunakan lirik yang sudah diputuskan panitia.
  • Kirimkan karya kealamat surel asborangers.ipmjateng@gmail.com dengan subjek judul Nama (spasi) asal pimpinan (spasi) MUSYWILTHEMESONGCOMPT. (format file) rar dan mecantumkan nama serta nomer HP dibadan surel.
  • Format Pengiriman Karya :
  • a. Melampirkan theme song dengan format Mpeg Layer 3 (Mp3) dengan kualitas audio layak dengar sesuai standar studio Rekaman
  • b. Bit-rate saat render 320 Kbps

Theme Song Muswil XXIII IPM Jawa Tengah

Judul : Kita berdaya
Cipt : PWIPM Jateng 2017-2019

Lalui tantangan, kuatkan ikatan
Selami proses, menjalin ukhuwah
Menangkis ego, membentuk kesucian
Untuk Muhammadiyah, jihad fisabilillah
Beribu coba terus kita lampaui
Berkarya nyata dan terus memberi
Tinggalkan tanda sebagai bukti
insan beradab diridhoi illahi
Reff:
Pelajar Muhammadiyah
Pejuang peradaban
Berdaya sebagai Insan
Bersua untuk ikatan
Bersua untuk ikatan
Kitalah generasi
Bergerak setulus hati
Menorehkan tinta suci
Sebagai poros kemajuan sejati

Kriteria Penilaian

Dalam theme song competition ini, kriteria penilaian
meliputi: harmonisasi, aransemen, struktur lagu, progresi akor, melodi lagu, vocal serta penguasaan instrument.

Narahubung

Intan – 085717791846
Agam – 085647817595