“Literasi Berkeadaban”

“Literasi Berkeadaban”

Literasi Berkeadaban
Oleh: Muhammad Nurul Huda
(Ketua Umum PW IPM Jawa Tengah Periode 2019-2021)

Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) pada tahun ini (2019) memasuki usia yang ke-58 tahun, sebagai organisasi dakwah amar ma’ruf nahi munkar dikalangan Pelajar memiliki tugas besar bahkan tugas yang sangat rumit, IPM harus hadir dan memberikan tawaran kongkrit untuk menghadapi problematika kehidupan Pelajar. Permasalahan bolos sekolah, tawuran, narkoba, pelecehan seksual, bullying, pemalakan, dan lain-lain masih sangat sering kita temui disekitar lingkungan kita yang semua itu muaranya karena disebabkan oleh rendahnya tradisi ilmu dan lemahnya adab / akhlak yang mulia.

Menilik satu periode ke belakang, masih ingat dengan: (1) kasus siswi di Kendal yang ber-KTA IPM sedang menyerang Rutan Mako Brimob Depok, (2) kasus tawuran pelajar di Magelang yang mengakibatkan jatuhnya korban meninggal dunia, (3) data dari BNN Provinsi Jawa Tengah yang menyebutkan lebih dari 300 ribu pengguna Narkoba dan 27,32% adalah pelajar dan mahasiswa, (4) video viral seorang guru di Kaliwungu dilecehkan murid-muridnya didepan kelas, (5) kasus Anindya salah satu siswa di Kota Semarang yang dikeluarkan sepihak oleh sekolah, dll, masih banyak sekali contoh kasus-kasus yang berkaitan dengan pelajar di Jawa Tengah.

Rasululah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya Aku (Rasulullah SAW) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”, (HR. Al-Bayhaqi).

Dari hadist tersebut, IPM sangat tepat sekali dalam visinya untuk mewujudkan pelajar yang terampil, berilmu, dan berakhlak mulia. Ditengah-tengah masyarakat kita saat ini, sedang terjadi perubahan sosial yang sedemikian rupa, perlahan-lahan tetapi terjadi secara terus-menerus. Selain itu, modernitas menuntut segala sesuatu berjalan dengan cepat, mudah, dan instan, mengakibatkan manusia berkecenderungan mengesampingkan proses-proses dan hanya berorientasi pada hasilnya, sehingga pada fase ini terjadilah degradasi intelektual dan degradasi moral.

Akan tetapi belum selesai dengan pemecahan masalah atas rendahnya tradisi ilmu dan lemahnya adab secara kongkrit, IPM dihadapkan dengan tantangan yang tak kalah besar yang harus disiapkan mulai dari sekarang. Generasi Pelajar atau generasi Millennials harus menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0, dimana segala aktifitas manusia modern beralih dari cara-cara konvensional menjadi serba digital dan serba online. Selain itu dalam waktu dekat Indonesia menghadapi bonus demografi sedangkan Jawa Tengah pada tahun ini menurut Gubernur Jawa Tengah sudah menghadapi Bonus Demografi, sehingga peningkatan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi pekerjaan rumah bagi IPM.

Ilmu dan adab adalah dua buah kosa kata yang berasal dari bahasa Arab yang masing-masing mempunyai arti tersendiri, namun kedua kata ini memiliki keterkaitan makna secara luas dan aplikatif. Dengan Ilmu manusia dapat menciptakan peradaban. Dalam agama Islam diwajibkan seseorang menuntut ilmu. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan ilmu memudahkan jalan menuju ke surga. Ini berarti dengan memiliki ilmu pengetahuan, manusia dapat menjalani kehidupan serta memaknainya sesuai dengan tuntunan apa yang di syariatkan oleh agama. Hal ini sejalan dengan pandangan Albert Einstein yang menyatakan bahwa “Science without religion is lame, Religion without science is blind” yang berarti ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu buta”. Dengan demikian menuntut ilmu sangat penting. Lebih jauh lagi ilmu yang telah diperoleh perlu diaplikasikan baik untuk diri sendiri, lingkungan dan masyarakat untuk kemaslahatan umat (Tahir, 2015: 18).

Sebagai Pelajar yang telah menisbahkan diri sebagai aktifis IPM, maka sudah menjadi keseharusan bagi setiap kadernya untuk menambah khazanah keilmuan dengan “membudayakan literasi” serta membangun keadaban dengan perilaku yang ihsan.

  1. Literasi
    Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy). Jadi, keberaksaraan atau literasi dapat diartikan melek teknologi, melek informasi, berpikir kritis, peka terhadap lingkungan, bahkan juga peka terhadap politik (Permatasari, 2015: 148).
    Literasi memiliki definisi yang sejalan lurus dengan “Tradisi Ilmu”. Secara etimologi, kata ilmu dalam bahasa Arab “ilm” yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan sebagainya (Wahid, 1996: 7). Ada 2 macam sumber ilmu pengetahuan menurut Tahir (2015: 21). Pertama, ilmu yang bersumber dari agama atau Allah SWT yang diturunkan kepada manusia melalui para Rasul Allah, berupa wahyu Allah yang diabadikan dalam kitab suci masing-masing. Kedua, ilmu pengetahuan yang bersumber dari filsafat, semua ilmu pengetahuan yang kita kenal sekarang ini bersumber dari filsafat yang dianggap sebagai induk dari segala ilmu pengetauan. Ketika itu filsafat mencakup pula segala pemikiran mengenai masyarakat. Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, berbagai ilmu pengetahuan yang semula tergabung dalam filsafat memisahkan diri dan berkembang sesuai dengan tujuan masing-masing.
    Tradisi ilmu dalam konteks IPM diterjemahkan didalam tanfidz Muktamar (2000), ditegaskan bahwa IPM adalah gerakan yang memiliki visi keilmuan yang didasari pada pandangan mendasar terhadap keyakinan bahwa hakikatnya sumber ilmu di dunia ini adalah Allah SWT. Konsekuensinya adalah perkembangan ilmu pengetahuan harus berawal dan mendapat kontrol dari sikap pasrah dan tunduk kepada Allah SWT.
    Oleh sebab itu, misi IPM selalu berupaya Membangun Tradisi Keilmuan. Gerakan IPM membawa misi keilmuannya kepada tatanan kehidupan yang manusiawi dan beradab serta jauh dari tatanan kehidupan yang sekularistik, hedonistik dan mekanistik (merupakan implikasi serius dari perkembangan IPTEK masa kini). Pelajar Muslim sebagai objek dan subjek dalam gerakan IPM dalam mengembangkan potensi keilmuannya harus selalu berorientasi kepada kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara. Dan potensi keilmuan pelajar dapat dikembangkan dalam komunitas yang memiliki tradisi keilmuan (Khoirudin, 2015).
    Gerakan IPM dalam membangun tradisi keilmuan menurut (Khoirudin, 2015) didasarkan pada asumsi dan prinsip antara lain:
    • Ilmu pengetahuan harus dikuasai untuk mendapatkan kedudukan sebagai manusia terhormat dan berkualitas dihadapan Allah SWT.
    • Semangat menggali khazanah keilmuan harus dibarengi dengan eksplorasi spiritualitas, sehingga tidak melahirkan karakter manusia berilmu yang sekular.
    • Dengan ilmu pengetahuan perspektif pelajar tentang realitas sosial menyatu dengan perspektifnya tentang Tuhan/agama
    Seseorang yang dikatakan literat menurut (Permatasari, 2015: 148) adalah jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut. Kepekaan atau literasi pada seseorang tentu tidak muncul begitu saja. Tidak ada manusia yang sudah literat sejak lahir. Menciptakan generasi literat membutuhkan proses panjang dan sarana yang kondusif. Proses ini dimulai dari kecil dan dari lingkungan keluarga, lalu didukung atau dikembangkan di sekolah, lingkungan pergaulan, dan lingkungan pekerjaan. Budaya literasi juga sangat terkait dengan pola pembelajaran di sekolah dan ketersediaan bahan bacaan di perpustakaan. Tapi kita juga menyadari bahwa literasi tidak harus diperoleh dari bangku sekolah atau pendidikan yang tinggi. Kemampuan akademis yang tinggi tidak menjamin seseorang akan literat. Pada dasarnya kepekaan dan daya kritis akan lingkungan sekitar lebih diutamakan sebagai jembatan menuju generasi literat, yakni generasi yang memiliki ketrampilan berpikir kritis terhadap segala informasi untuk mencegah reaksi yang bersifat emosional.
  2. Berkeadaban
    Berkeadaban berakar dari kata adab, yang dapat diartikan norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama Islam. Adab memiliki makna yang sama dengan akhlak, dan terbagi menjadi dua, yaitu: akhlak yang terpuji (akhlaq mahmudah) dan akhlak yang tercela (akhlaq madzmumah). Akhlak secara bahasa maknanya adalah perangai atau tabiat, yaitu gambaran batin yang dijadikan tabiat bagi manusia.
    Pada masa Kerajaan Bani Abbasiyyah, kata adab berarti semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan umat manusia, termasuk tata cara yang seharusnya ditaati dalam melaksanakan suatu pekerjaan (menaati aturan yang telah ada berkaitan dengan pekerjaan itu). Dalam kitab-kitab referensi Islam juga ditemukan kata adab yang berarti etika atau tata cara yang baik dalam melakukan sesuatu pekerjaan, baik ibadah maupun mu’amalah duniawiyah (Mardan, 2014: 136).
    Menurut Dedeng Rosidin (2003: 169), al-Adab pada masa kejayaan Islam digunakan dalam makna yang sangat umum, yaitu bagi semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh akal baik yang langsung berhubungan dengan Islam maupun yang tidak langsung kemudian berkembang maknanya menjadi budi pekerti yang baik, prilaku yang terpuji dan sopan santun. Pada akhirnya makna al-Adab menunjukkan arti:
    • Mengajar sehingga orang yang belajar mempunyai budi pekerti yang baik.
    • Mendidik jiwa dan akhlak.
    • Melatih berdisiplin.
    Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, adab adalah pengenalan dan pengakuan terhadap realita bahwasannya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hirearki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya, dan bahwa seseorang itu memiliki tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas, kapasitas, potensi fisik, intelektual dan spiritual. Dalam hal ini, al-Attas memberi makna adab secara lebih dalam dan komprehensif yang berkaitan dengan objek-objek tertentu yaitu pribadi manusia, ilmu, bahasa, sosial, alam dan Tuhan. Beradab, adalah menerapkan adab kepada masing-masing objek tersebut dengan benar, sesuai aturan.
    Dari berbagai sumber dan referensi yang ada, secara sederhana dapat diartikan sebagai berikut:
    Adab adalah akhlak, budi pekerti, etika, moral, sopan santun.
    Beradab adalah memiliki adab, berakhlak mulia.
    Peradaban adalah kemajuan diseluruh sisi kehidupan masyarakat.
    Keadaban adalah ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin
    .

Kesimpulan
Literasi Berkeadaban adalah upaya mentradisikan ilmu pada suatu tatanan masyarakat (khususnya Pelajar) yang berorientasi pada kecerdasan lahir dan batin. Secara lahir diartikan dengan adanya kultur keilmuan yang tinggi dan merata, adanya kompetensi dan kapasitas, adanya inisiatif dan partisipasi diberbagai bidang kehidupan. Secara batin diartikan dengan memiliki tauhid yang kuat dan dalam interaksi sosial mengedepankan akhlak yang mulia berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam.

Dalam konteks IPM, mengkampanyekan #literasiberkeadaban merupakan salah satu upaya dalam membangun kesadaran kolektif sehingga IPM melahirkan sosok-sosok teladan yang mampu menginspirasi dan menjadi role model bagi Pelajar secara umum dan masyarakat secara universal. Menjadi Pelajar yang terampil, berilmu, dan berakhlak mulia sesuai dengan visi besar ikatan.

Ada sebuah paradigma yang salah kaprah dikalangan aktifis saat ini, khususnya bagi aktifis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Dimana banyak dari mereka adalah orang-orang yang suka membolos, prestasi akademik pas-pasan, pola hidup yang tak teratur, untuk mahasiswa masa studinya panjang, dan bahkan tidak sabaran dalam menghargai setiap proses-proses selama menempuh studi pendidikan, sampai kepada yang paling ekstrem yaitu lebih memilih untuk tidak melanjutkan studi pendidikan karena alasan jenuh dan membosankan.

Seringkali kader-kader IPM merasa resah dengan Struktural Pimpinan Muhammadiyah dan Pimpinan AUM bukanlah mereka yang lahir dari “Rahim” perkaderan IPM maupun Ortom Muhammadiyah lainnya, sehingga mereka tidak memahami dinamika dan permasalahan IPM, maka terbentuk stigma bahwa program kerja dan kegiatan IPM terhambat karena minimnya dukungan material dan non-material dari internal Persyarikatan. Tetapi, keresahan ini masih sebatas menjadi keresahan tanpa adanya upaya bersama sejak dini untuk bergerak merubah stigma-stigma tersebut. Pekerjaan rumah saat ini adalah bagaimana IPM harus mampu menjadi rumah kader dalam melahirkan kader-kader yang ideologis serta memiliki kualifikasi soft skill tertentu.

Dimasa mendatang kader-kader IPM diharapkan mampu menjadi penerus Persyarikatan. Oleh karena itu, Kader-kader IPM jadilah agamawan, politisi, cendekiawan, pengusaha, birokrat, profesional, pendidik, budayawan, pekerja sosial, dan TNI/Polri, lalu kembalilah pada Persyarikatan Muhammadiyah.


Daftar Pustaka:
– Ensiklopedi Nasional Indonesia. (2004: 63). Bekasi: Delta Pamungkas. ISBN 979-9327-00-8.
– Permatasari, Ane. (2015). Membangun Kualitas Bangsa Dengan Budaya Literasi. Yogyakarta: UMY. 146-157.
– Wahid, Ramli Abdul. (1996: 7). Ulumul Qu’ran. Jakarta: Grafindo.
– Mardan. (2015). Peradaban Perspektif Al-Qur’an, Vol. 14, No. 2, 132-142.
– Tahir, Gustia. (2015). Sinergitas Antara Ilmu dan Adab Dalam Perspektif Islam, Vol. 15, No. 1, 18-29.

– Dedeng Rosidin (2003: 169). Akar-akar Pendidikan dalam al-Quran dan al-Hadits. Bandung: Pustaka Umat.

Terimakasih PII, Saatnya “Move On” ke IPM

Terimakasih PII, Saatnya “Move On” ke IPM

Oleh : Muh Arief Sitegar S.E.I., (Anggota Bidang Organisasi PW IPM Jawa Tengah)

Pelajar merupakan potensi luar biasa yang menjadi syarat utama suatu kemajuan. Dalam sejarah Indonesia, bangsa menjadi sadar akan penindasan dan penjajahan tidak lain karena bangkitnya kaum terpelajar kala itu. Bagaimana kita melihat lulusan sekolah dokter menjadi pelopor berdirinya organisasi Boedi Oetomo sebagai wadah pencerdasan Masyarakat. Kesadaran dan pencerdasan ini yang menjadikan Soekarno dan segenap pendiri bangsa sepakat untuk merebut kemerdekaan Indonesia.

Muhammadiyah tersohor dengan kualitas dan kuantitas potensi lembaga pendidikan yang dimiliki. Mempunyai andil dalam memberi pengaruh terhadap peningkatan kualitas masyarakat. Dan keberlanjutan ormas raksasa ini harus di imbangi dengan pembenihan kader-kader yang kelak melanjutkan estafet kepemimpinan. Dinamika terjadi, sebagai lumrahnya organisasi terkadang Muhammadiyah merasa “kewalahan” untuk mendapatkan penerus yang mengerti arah tujuan serta ideologi Muhammadiyah.

Dalam konteks daerah, tidak semua tempat telah memiliki budaya pengkaderan ideologis yang mapan. Jumlah yang minor dan sumber daya terbatas menjadikan sistem perkaderan berjalan mengalir sederhana. Diperlukan wadah yang yang tepat dan tersistem untuk mewujudkan pendidikan ideologi Muhammadiyah yang mantap. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menjadi bagian yang di gagas untuk mewujudkan nya. Sementara itu pada masa tahun 80an ketika geliat IPM belum merata di daerah-daerah gerak organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) eksis di kalangan kader muda Muhammadiyah. Banyak anak-anak tokoh Muhammadiyah yang aktif bergerak di organisasi ini. Sebagaimana diketahui PII adalah organisasi Islam eksternal sekolah untuk para Pelajar hingga mahasiswa. PII adalah organisasi yang berasaskan Islam dan berdiri Independent (bukan merupakan Underbow dari Organisasi manapun). Bergerak dibidang pendidikan, non Partai (piijepara.blogspot.com). Kenyataan ini menjadikan PII sebagai organisasi terbuka dari banyak kalangan dan tidak berorientasi pada ideologi ormas tertentu termasuk Muhammadiyah.

Ideologi Muhammadiyah yang telah tertata seyogyanya dapat di tranformasikan kepada kader penerusnya. Urgensi pendidikan ideologis harus di wadahi agar hasil yang diharapkan dapat terwujud. Keberadaan IPM sebagai wadah bagi anak-anak tokoh Muhammadiyah maupun pelajar Muhammadiyah secara umum patut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Perlombaan eksistensi antara IPM dan PII di kalangan internal Muhammadiyah perlu disikapi dengan Arif. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) adalah sebuah taman untuk menyemai benih-benih perkaderan ideologis. Tidak tepat dan menyalahi aturan jika ada sebuah sekolah Muhammadiyah yang dengan fasilitas yang dimiliki malah digunakan untuk kegiatan perkaderan organisasi pelajar yang tidak terikat secara ideologi dengan muhammadiyah itu sendiri. Sebagaimana tertuang dalam Surat. Keputusan PP Muhammadiyah, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah No. 510/SK.PP/III.A/16/1997 tertanggal 3 Oktober 1997 tentang Qoidah Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah, Bab VI Pasal 24 dijelaskan bahwa:
“Pimpinan Sekolah/Pondok Pesantren/Madrasah Muhammadiyah berkewajiban membina Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang menjadi Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dalam Sekolah/Madrasah/Pondok Pesantren Muhammadiyah”, kemudian dalam Bab VIII Pasal 32 dituliskan bahwa, “Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di Sekolah/Pondok Pesantren/Madrasah Muhammadiyah adalah Ikatan Pelajar Muhammadiyah”.

Penamaan organisasi pelajar dilingkungan sekolah Muhammadiyah secara jelas telah disebutkan dalam SK Majlis Dikdasmen PP Muhammadiyah NO. 128 tahun 2008 Bab II tentang kedudukan organisasi otonom ayat 1 bahwa “Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah satu-satunya organisasi pelajar di lembaga pendidikan Muhammadiyah”. Jelas kiranya jika ada sekolah Muhammadiyah yang membuka pintu untuk kegiatan organisasi pelajar selain IPM adalah suatu penyimpangan terhadap kaidah organisasi.

Patut diakui bahwa gerak juang PII pada masa orde lama dan orde baru menjadi salah satu pemain utama dalam pergerakan Islam terutama untuk pelajar di Indonesia. Banyak jasa yang telah ditorehkan dalam upaya melawan faham komunis dan mencetak generasi unggul bangsa. Dan kita patut bersyukur dan berterima kasih atas perjuangan PII dalam mencerdaskan pelajar di Indonesia. Sudah saatnya tokoh Muhammadiyah “move on” dan saling bahu membahu membesarkan rumah asli pelajar Muhammadiyah yaitu IPM. Mengerahkan segala potensi sumber daya untuk menumbuhkan benih-benih penerus bangsa dan persyarikatan melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Kegelisahan ini muncul ketika ada oknum kepala sekolah Muhammadiyah di daerah Pantura Jawa Tengah yang dengan kuasanya mendukung kegiatan perkaderan organisasi pelajar bukan IPM memanfaatkan fasilitas milik persyarikatan untuk melakukan kegiatan perkaderan. Sehingga khalayak ramai bertanya apakah benar kepala sekolah tersebut tidak faham ideologi Muhammadiyah ?. Tentu tidak semudah itu untuk dapat menghakimi. Diperlukan suatu jalinan komunikasi yang baik untuk menyelesaikan masalah ini. Di lain daerah di Pantura tengah Jawa Tengah bahkan unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah yang mendukung kegiatan organisasi pelajar bukan IPM untuk melaksanakan perkaderannya di fasilitas persyarikatan. Dan karena merasa di naungi oleh tokoh-tokoh pimpinan maka dampaknya banyak kader muda Muhammadiyah yang harusnya menempuh pembinaam ideologi Muhammadiyah melalu IPM justru memilih jalur yang secara tegas tidak ada sangkut pautnya dengan Muhammadiyah. Pada akhirnya saling berkaca dan mengakui kekurangan yang dimiliki menjadi bahan muhasabah dalam melanjutkan tujuan dari didirikannya persyaratan muhammadiyah.(Arief)

Senam dan BAKSOS menjadi Pelengkap PKDTM 1 SMA Muhammadiyah 4 Banjarnegara

Senam dan BAKSOS menjadi Pelengkap PKDTM 1 SMA Muhammadiyah 4 Banjarnegara

KALIBENING- Ada yang unik dari SMA Muhammadiyah 4 Banjarnegara, di Kalibening ini. Setelah siswa selesai melaksanakan Pelatihan Akhir Semester (PAS) Ganjil mereka mengadakan Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1 (PKD TM1). Waktu yang biasanya digunakan untuk Classmeeting atau refreshing lainnya untuk mengisi waktu luang sebelum pembagian rapor mereka ganti dengan diadakan kegiatan PKD TM1. Classmeeting tersebut tidak hilang sepenuhnya karena sebelumnya telah diadakan Classmeeting selama dua hari.

PKD TM1 ini diadakan selama 4 hari yaitu dari tanggal 10-14 Desember 2018 dengan tiga hari berada di SMA Muhammadiyah 4 dan yang satu hari di Desa Karanggondang, Kec.Kalibening. PKD TM ini diikuti oleh 110 peserta yang merupakan siswa kelas 10 SMA Muhammadiyah 4 Banjarnegara, di Kalibening dan ada tambahan 2 dari luar sekolah. Karena peserta yang tidak memungkinkan digabung menjadi satu, akhirnya peserta dibagi menjadi 4 ruangan. Dengan tema “Mencetak Kader yang Disiplin, Beriman, dan Berprestasi” diharapkan setelah selesai diadakannya Pengkaderan ini peserta dapat mengimplementasikan nilai-nilai yang didapatkan selama Perkaderan dikehidupan sehari-hari.

Selama PKD TM 1 satu berlangsung siswa digodok untuk diberikan berbagai macam materi, sekiranya ada kurang lebih 9 materi diberikan kepada peserta, yang terdiri dari : Ke-Islaman (Tauhid, Iabadah, Akhlaq), Kemuhammadiyahan, Ke-IPM-an (sejarah IPM, Kepribadian IPM), Kepemimpinan, Ke-Organisasi-an, dan Psycologi Remaja. Materi-materi tersebut disampaikan oleh para ahlinya, seperti materi Ke-Islaman disampaikan oleh bapak-bapak dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammdiyah (PCPM) Kalibening, Psycologi Remaja disampaikan oleh ibu-ibu dari Pimpinan Cabang Nasyi’atul Aisyi’ah (PCNA) Kalibening. Dan untuk materi selain itu diiisi sendiri oleh teman-teman Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muahmmadiyah (PD IPM) Banjarnegara.

Selain materi dalam ruangan, kegiatan dari PKD TM 1 ini juga meliputi : Sholat Tahajud, kajian Ayat, Hafalan surat pilihan, serta senam pagi. Peserta diwajibkan bangun jam 03.00 WIB untuk melaksanakan Sholat Tahajud, setelah itu mereka bersama-sama melaksanakan Sholat Shubuh berjamaah, dan dilanjutkan Kajian Ayat sampai kira-kira pukul 06.00 WIB. Setelah itu peserta diarahkan menuju halam SMA Muhammadiyah 4 untuk melaksanakan senam bersana-sama. Senam ini tidak hanya diikuti oleh peserta saja, tetapi seluruh panitia dan fasilitator pendampiing juga mengikuti senam tersebut. Tujuan dari senam ini adalah untuk merefresh otak dan badan peserta yang terlalalu sering berkegiatan didalam ruangan, dengan adanya senam tersebut diharapkan dapat menghilangkan penat peserta, panitia, ataupun fasilitator pendamping. Teknis dari senam pagi ini adalah seluruh peserta senam diabariskan dengan rapi kemudian mereka melakukan gerakjan senam mengikuti instruktur senam yang berada didepan mereka.

Setelah senam mereka melaksanakan aktivitas mandi dan makan, lalu setelah itu mereka masuk ruangan kembali untuk diberikan materi. Selain itu semua, peserta juga wajib menyetorkan hafalan surat-surat pilihan kepada Imam of Trining (IOT). Peserta bisa menghafalkan dan setoran haflan disela-sela waktu luang.

Setelah tiga hari menjalani rutinitas PKD TM 1 yang sangat menyenangkan ini, makan di hari ketiga tepatnya Hari Rabu sore kita semua berangkat ke Desa Karanggondang, Kecamatan Kalibening untuk mengikuti Pengajian pada malam hari dan kegiatan Bakti Sosial (BAKSOS) di pagi harinya. Kita berangkat sekitar pukul 16.00 WIB menggunakan tiga macam kendaraan, ada yang menggunakan Mobil Pick up, Mobil Ambulance LAZIZMU, dan yang unik menggunakan Mobil Truck. Kita semua disana diinapkan diruma-rumah warga, ada sekitar 13 rumah yang digunakan untuk tempat penginapan, dengan 3 rumah untuk para ipmawan, 6 rumah ipmawati, 2 rumah untuk panitia, dan 1 rumah untuk fasilitator pendamping, serta 1 rumah untuk Guru SMA Muhammadiyah 4.

Masyarakat setempat dan peserta PKD TM 1 sangat antusias mengtikuti pengajian di malam hari walaupun dengan suasana hujan deras. Pengajian tersebut dimulai ba’da Isya bertempat di Masjid Al-Amaliyah Desa Karanggondang dan diisi oleh Ustad Rizky dari Madrasah Boarding School (MBS) SMA Muyhammadiyah 4 Banjarnegara di Kalibening.

Bakti Sosial Peserta PKDTM1 SMA Muhammadiyah 4 Banjarnegara, Kalibening

Pagi harinya sekitar pukul 08.00 WIB seluruh peserta, panitia, dan fasilitator pendamping diarahkan untuk mengikuti Bakti Sosial (BAKSOS). Kegiatan BAKSOS tersebut meliputi membersihkan sampah-sampah di jalan Desa Desa Karanggondnang dan membersihkan mushola/masjid. Untuk pembersihan mushola/masjid kita diarahkan kedalam dua tempat yaitu Mushola Ar-Rohma dan Masjid Al-Amaliyah. BAKSOS tersebut berakhir sekitar pukul 10.30 WIB

Dan setelah kegiatan BAKSOS peserta, panitia, dan pasilitator pendamping langsung diarahkan ke Masjid Al-Amaliyah untuk melamgsungkan Penutupan dari acara PKD TM 1 ini. Penutupan tersebut dihadirilangsung oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Karanggondang, Bapak H.Erdi. Ramgkaian acar Penutupan terdiri dari Pembukaan, Sambutan-sambutan, Serah Terima Mandat, Penutup. Sambutan-sambutan terdiri dari pihak SMA Muhammadiyah 4 Kalibening, PRM oleh Bapak H.Erdi, dan serah terima mandat dari Master of Trining (MOT)dikembalikan kepada ketua panitia PKD TM 1. Dalam acara penutupan ini juga ada pembagian hadiah bagi peserta yang aktif dan kritis. Dan setelah penutupan selesai peserta diminta untuk foto bersama lalu, kemudiian diarahkan dan dangkut menuju ke sekolah.

Selesainya PKD TM 1 ini diharapkan pesereta dapat membenahi moral mereka menjadi lebih baik lagi, seperti halnya tutur dari Ketua Panitia PKD TM 1, Bagus Mizan Baktiaji “Harapan utama setelah PKD TM 1 ini adalah dapat mengubah sikap dan perilaku siswa yang dulunya masih minus akhlaqul karimah menjadi lebih baik lagi, yang dulunya sholatnya masih bolong-bolong semoga bisa menjadi full seta semoga dengan adanya PKD TM 1 ini dapat menambah wawasan siswa baik itu pengetahuan umum maupun religius”