“Literasi Berkeadaban”

“Literasi Berkeadaban”

Literasi Berkeadaban
Oleh: Muhammad Nurul Huda
(Ketua Umum PW IPM Jawa Tengah Periode 2019-2021)

Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) pada tahun ini (2019) memasuki usia yang ke-58 tahun, sebagai organisasi dakwah amar ma’ruf nahi munkar dikalangan Pelajar memiliki tugas besar bahkan tugas yang sangat rumit, IPM harus hadir dan memberikan tawaran kongkrit untuk menghadapi problematika kehidupan Pelajar. Permasalahan bolos sekolah, tawuran, narkoba, pelecehan seksual, bullying, pemalakan, dan lain-lain masih sangat sering kita temui disekitar lingkungan kita yang semua itu muaranya karena disebabkan oleh rendahnya tradisi ilmu dan lemahnya adab / akhlak yang mulia.

Menilik satu periode ke belakang, masih ingat dengan: (1) kasus siswi di Kendal yang ber-KTA IPM sedang menyerang Rutan Mako Brimob Depok, (2) kasus tawuran pelajar di Magelang yang mengakibatkan jatuhnya korban meninggal dunia, (3) data dari BNN Provinsi Jawa Tengah yang menyebutkan lebih dari 300 ribu pengguna Narkoba dan 27,32% adalah pelajar dan mahasiswa, (4) video viral seorang guru di Kaliwungu dilecehkan murid-muridnya didepan kelas, (5) kasus Anindya salah satu siswa di Kota Semarang yang dikeluarkan sepihak oleh sekolah, dll, masih banyak sekali contoh kasus-kasus yang berkaitan dengan pelajar di Jawa Tengah.

Rasululah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya Aku (Rasulullah SAW) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”, (HR. Al-Bayhaqi).

Dari hadist tersebut, IPM sangat tepat sekali dalam visinya untuk mewujudkan pelajar yang terampil, berilmu, dan berakhlak mulia. Ditengah-tengah masyarakat kita saat ini, sedang terjadi perubahan sosial yang sedemikian rupa, perlahan-lahan tetapi terjadi secara terus-menerus. Selain itu, modernitas menuntut segala sesuatu berjalan dengan cepat, mudah, dan instan, mengakibatkan manusia berkecenderungan mengesampingkan proses-proses dan hanya berorientasi pada hasilnya, sehingga pada fase ini terjadilah degradasi intelektual dan degradasi moral.

Akan tetapi belum selesai dengan pemecahan masalah atas rendahnya tradisi ilmu dan lemahnya adab secara kongkrit, IPM dihadapkan dengan tantangan yang tak kalah besar yang harus disiapkan mulai dari sekarang. Generasi Pelajar atau generasi Millennials harus menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0, dimana segala aktifitas manusia modern beralih dari cara-cara konvensional menjadi serba digital dan serba online. Selain itu dalam waktu dekat Indonesia menghadapi bonus demografi sedangkan Jawa Tengah pada tahun ini menurut Gubernur Jawa Tengah sudah menghadapi Bonus Demografi, sehingga peningkatan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi pekerjaan rumah bagi IPM.

Ilmu dan adab adalah dua buah kosa kata yang berasal dari bahasa Arab yang masing-masing mempunyai arti tersendiri, namun kedua kata ini memiliki keterkaitan makna secara luas dan aplikatif. Dengan Ilmu manusia dapat menciptakan peradaban. Dalam agama Islam diwajibkan seseorang menuntut ilmu. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan ilmu memudahkan jalan menuju ke surga. Ini berarti dengan memiliki ilmu pengetahuan, manusia dapat menjalani kehidupan serta memaknainya sesuai dengan tuntunan apa yang di syariatkan oleh agama. Hal ini sejalan dengan pandangan Albert Einstein yang menyatakan bahwa “Science without religion is lame, Religion without science is blind” yang berarti ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu buta”. Dengan demikian menuntut ilmu sangat penting. Lebih jauh lagi ilmu yang telah diperoleh perlu diaplikasikan baik untuk diri sendiri, lingkungan dan masyarakat untuk kemaslahatan umat (Tahir, 2015: 18).

Sebagai Pelajar yang telah menisbahkan diri sebagai aktifis IPM, maka sudah menjadi keseharusan bagi setiap kadernya untuk menambah khazanah keilmuan dengan “membudayakan literasi” serta membangun keadaban dengan perilaku yang ihsan.

  1. Literasi
    Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy). Jadi, keberaksaraan atau literasi dapat diartikan melek teknologi, melek informasi, berpikir kritis, peka terhadap lingkungan, bahkan juga peka terhadap politik (Permatasari, 2015: 148).
    Literasi memiliki definisi yang sejalan lurus dengan “Tradisi Ilmu”. Secara etimologi, kata ilmu dalam bahasa Arab “ilm” yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan sebagainya (Wahid, 1996: 7). Ada 2 macam sumber ilmu pengetahuan menurut Tahir (2015: 21). Pertama, ilmu yang bersumber dari agama atau Allah SWT yang diturunkan kepada manusia melalui para Rasul Allah, berupa wahyu Allah yang diabadikan dalam kitab suci masing-masing. Kedua, ilmu pengetahuan yang bersumber dari filsafat, semua ilmu pengetahuan yang kita kenal sekarang ini bersumber dari filsafat yang dianggap sebagai induk dari segala ilmu pengetauan. Ketika itu filsafat mencakup pula segala pemikiran mengenai masyarakat. Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, berbagai ilmu pengetahuan yang semula tergabung dalam filsafat memisahkan diri dan berkembang sesuai dengan tujuan masing-masing.
    Tradisi ilmu dalam konteks IPM diterjemahkan didalam tanfidz Muktamar (2000), ditegaskan bahwa IPM adalah gerakan yang memiliki visi keilmuan yang didasari pada pandangan mendasar terhadap keyakinan bahwa hakikatnya sumber ilmu di dunia ini adalah Allah SWT. Konsekuensinya adalah perkembangan ilmu pengetahuan harus berawal dan mendapat kontrol dari sikap pasrah dan tunduk kepada Allah SWT.
    Oleh sebab itu, misi IPM selalu berupaya Membangun Tradisi Keilmuan. Gerakan IPM membawa misi keilmuannya kepada tatanan kehidupan yang manusiawi dan beradab serta jauh dari tatanan kehidupan yang sekularistik, hedonistik dan mekanistik (merupakan implikasi serius dari perkembangan IPTEK masa kini). Pelajar Muslim sebagai objek dan subjek dalam gerakan IPM dalam mengembangkan potensi keilmuannya harus selalu berorientasi kepada kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara. Dan potensi keilmuan pelajar dapat dikembangkan dalam komunitas yang memiliki tradisi keilmuan (Khoirudin, 2015).
    Gerakan IPM dalam membangun tradisi keilmuan menurut (Khoirudin, 2015) didasarkan pada asumsi dan prinsip antara lain:
    • Ilmu pengetahuan harus dikuasai untuk mendapatkan kedudukan sebagai manusia terhormat dan berkualitas dihadapan Allah SWT.
    • Semangat menggali khazanah keilmuan harus dibarengi dengan eksplorasi spiritualitas, sehingga tidak melahirkan karakter manusia berilmu yang sekular.
    • Dengan ilmu pengetahuan perspektif pelajar tentang realitas sosial menyatu dengan perspektifnya tentang Tuhan/agama
    Seseorang yang dikatakan literat menurut (Permatasari, 2015: 148) adalah jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut. Kepekaan atau literasi pada seseorang tentu tidak muncul begitu saja. Tidak ada manusia yang sudah literat sejak lahir. Menciptakan generasi literat membutuhkan proses panjang dan sarana yang kondusif. Proses ini dimulai dari kecil dan dari lingkungan keluarga, lalu didukung atau dikembangkan di sekolah, lingkungan pergaulan, dan lingkungan pekerjaan. Budaya literasi juga sangat terkait dengan pola pembelajaran di sekolah dan ketersediaan bahan bacaan di perpustakaan. Tapi kita juga menyadari bahwa literasi tidak harus diperoleh dari bangku sekolah atau pendidikan yang tinggi. Kemampuan akademis yang tinggi tidak menjamin seseorang akan literat. Pada dasarnya kepekaan dan daya kritis akan lingkungan sekitar lebih diutamakan sebagai jembatan menuju generasi literat, yakni generasi yang memiliki ketrampilan berpikir kritis terhadap segala informasi untuk mencegah reaksi yang bersifat emosional.
  2. Berkeadaban
    Berkeadaban berakar dari kata adab, yang dapat diartikan norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama Islam. Adab memiliki makna yang sama dengan akhlak, dan terbagi menjadi dua, yaitu: akhlak yang terpuji (akhlaq mahmudah) dan akhlak yang tercela (akhlaq madzmumah). Akhlak secara bahasa maknanya adalah perangai atau tabiat, yaitu gambaran batin yang dijadikan tabiat bagi manusia.
    Pada masa Kerajaan Bani Abbasiyyah, kata adab berarti semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan umat manusia, termasuk tata cara yang seharusnya ditaati dalam melaksanakan suatu pekerjaan (menaati aturan yang telah ada berkaitan dengan pekerjaan itu). Dalam kitab-kitab referensi Islam juga ditemukan kata adab yang berarti etika atau tata cara yang baik dalam melakukan sesuatu pekerjaan, baik ibadah maupun mu’amalah duniawiyah (Mardan, 2014: 136).
    Menurut Dedeng Rosidin (2003: 169), al-Adab pada masa kejayaan Islam digunakan dalam makna yang sangat umum, yaitu bagi semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh akal baik yang langsung berhubungan dengan Islam maupun yang tidak langsung kemudian berkembang maknanya menjadi budi pekerti yang baik, prilaku yang terpuji dan sopan santun. Pada akhirnya makna al-Adab menunjukkan arti:
    • Mengajar sehingga orang yang belajar mempunyai budi pekerti yang baik.
    • Mendidik jiwa dan akhlak.
    • Melatih berdisiplin.
    Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, adab adalah pengenalan dan pengakuan terhadap realita bahwasannya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hirearki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya, dan bahwa seseorang itu memiliki tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas, kapasitas, potensi fisik, intelektual dan spiritual. Dalam hal ini, al-Attas memberi makna adab secara lebih dalam dan komprehensif yang berkaitan dengan objek-objek tertentu yaitu pribadi manusia, ilmu, bahasa, sosial, alam dan Tuhan. Beradab, adalah menerapkan adab kepada masing-masing objek tersebut dengan benar, sesuai aturan.
    Dari berbagai sumber dan referensi yang ada, secara sederhana dapat diartikan sebagai berikut:
    Adab adalah akhlak, budi pekerti, etika, moral, sopan santun.
    Beradab adalah memiliki adab, berakhlak mulia.
    Peradaban adalah kemajuan diseluruh sisi kehidupan masyarakat.
    Keadaban adalah ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin
    .

Kesimpulan
Literasi Berkeadaban adalah upaya mentradisikan ilmu pada suatu tatanan masyarakat (khususnya Pelajar) yang berorientasi pada kecerdasan lahir dan batin. Secara lahir diartikan dengan adanya kultur keilmuan yang tinggi dan merata, adanya kompetensi dan kapasitas, adanya inisiatif dan partisipasi diberbagai bidang kehidupan. Secara batin diartikan dengan memiliki tauhid yang kuat dan dalam interaksi sosial mengedepankan akhlak yang mulia berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam.

Dalam konteks IPM, mengkampanyekan #literasiberkeadaban merupakan salah satu upaya dalam membangun kesadaran kolektif sehingga IPM melahirkan sosok-sosok teladan yang mampu menginspirasi dan menjadi role model bagi Pelajar secara umum dan masyarakat secara universal. Menjadi Pelajar yang terampil, berilmu, dan berakhlak mulia sesuai dengan visi besar ikatan.

Ada sebuah paradigma yang salah kaprah dikalangan aktifis saat ini, khususnya bagi aktifis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Dimana banyak dari mereka adalah orang-orang yang suka membolos, prestasi akademik pas-pasan, pola hidup yang tak teratur, untuk mahasiswa masa studinya panjang, dan bahkan tidak sabaran dalam menghargai setiap proses-proses selama menempuh studi pendidikan, sampai kepada yang paling ekstrem yaitu lebih memilih untuk tidak melanjutkan studi pendidikan karena alasan jenuh dan membosankan.

Seringkali kader-kader IPM merasa resah dengan Struktural Pimpinan Muhammadiyah dan Pimpinan AUM bukanlah mereka yang lahir dari “Rahim” perkaderan IPM maupun Ortom Muhammadiyah lainnya, sehingga mereka tidak memahami dinamika dan permasalahan IPM, maka terbentuk stigma bahwa program kerja dan kegiatan IPM terhambat karena minimnya dukungan material dan non-material dari internal Persyarikatan. Tetapi, keresahan ini masih sebatas menjadi keresahan tanpa adanya upaya bersama sejak dini untuk bergerak merubah stigma-stigma tersebut. Pekerjaan rumah saat ini adalah bagaimana IPM harus mampu menjadi rumah kader dalam melahirkan kader-kader yang ideologis serta memiliki kualifikasi soft skill tertentu.

Dimasa mendatang kader-kader IPM diharapkan mampu menjadi penerus Persyarikatan. Oleh karena itu, Kader-kader IPM jadilah agamawan, politisi, cendekiawan, pengusaha, birokrat, profesional, pendidik, budayawan, pekerja sosial, dan TNI/Polri, lalu kembalilah pada Persyarikatan Muhammadiyah.


Daftar Pustaka:
– Ensiklopedi Nasional Indonesia. (2004: 63). Bekasi: Delta Pamungkas. ISBN 979-9327-00-8.
– Permatasari, Ane. (2015). Membangun Kualitas Bangsa Dengan Budaya Literasi. Yogyakarta: UMY. 146-157.
– Wahid, Ramli Abdul. (1996: 7). Ulumul Qu’ran. Jakarta: Grafindo.
– Mardan. (2015). Peradaban Perspektif Al-Qur’an, Vol. 14, No. 2, 132-142.
– Tahir, Gustia. (2015). Sinergitas Antara Ilmu dan Adab Dalam Perspektif Islam, Vol. 15, No. 1, 18-29.

– Dedeng Rosidin (2003: 169). Akar-akar Pendidikan dalam al-Quran dan al-Hadits. Bandung: Pustaka Umat.