Refleksi 58 Tahun Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Refleksi 58 Tahun Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Refleksi 58 Tahun Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Oleh : Sulistyo Suharto (Bendahara 2 PW IPM Jawa Tengah periode 2019-2021)

Bertepatan dengan 18 Juli 2019, merupakan peringatan 58 tahun ikatan pelajar Muhammadiyah berdiri. Usia mumpuni untuk organisaai yang telah melampaui berbagai fase perjalanan. Tentunya dalam peringatan 58 tahun IPM ini tidak lepas dari semangat hijrah, yakni semangat untuk menjadi yang lebih baik lagi, tak lupa IPM terus membawa tradisi ilmu menjadi gerakan dalam berdakwah dikalangan pelajar.
Semangat tadabbur

Al quran merupakan pedoman kunci didalam hidup umat Islam. Ada pahala dalam membaca setiap hurufnya , dan ada hikmah serta kebenaran dalam setiap kata. Tak terkecuali bagi Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang terus mnecoba membaca, mempelajari dan mentadabburi al quran ayat per ayat. Ini dapat terlihat dari semboyan yang digunakan yaitu nuuun, wal qalami wa maa yasthuruun ( nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis). Didalam semboyan sarat makna filosofis dimana menjelaskan bahwa nun adalah ‘bak tinta’. Sedangkan Qalam adalah pena yang merupakan substansi pertama atau biasa disebut sebagai akal pertama dan lembaran (maa yasthuruun) ialah lembaran yang terpelihara (lauh mahfuz) atau ummul kitab. Bagi Ibnu Arabi, nun ialah malaikat yang melukis semua kejadian. Sang penulis memiliki pengetahuan majemuk dan beraneka ragam, sedangkan lembaran atau kanvas tempat menuangkan tulisan bersifat reseptif.

Dari tulisan yang sarat akan makna ini ipm akan dituntut untuk menjadi pena-pena kecil dalam perjalanan dakwah umat islam menjadikan wadah untuk menuliskan sejarah melalui gerakan dan karya untuk umat dan bangsa. Bukan hanya itu Ikatan Pelajar Muhammadiyah juga dituntut untuk mempunyai pengetahuan yang luas, pengetahuan yang akan digunakan untuk mencerdaskan dan mencerahkan ummat.

Ikatan Pelajar Muhammadiyah sudah cukup bisa menarasikan semboyan tersebut dengan membawa membawa Tradisi ilmu dalam konteks yang diterjemahkan didalam tanfidz Muktamar (2000), menegaskan bahwa IPM adalah gerakan yang memiliki visi keilmuan yang didasari pada pandangan mendasar terhadap keyakinan bahwa hakikatnya sumber ilmu di dunia ini adalah Allah swt. Konsekuensinya adalah perkembangan ilmu pengetahuan harus berawal dan mendapat kontrol dari sikap pasrah dan tunduk kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, misi IPM selalu berupaya Membangun Tradisi Keilmuan. Gerakan IPM membawa misi keilmuannya kepada tatanan kehidupan yang manusiawi dan beradab serta jauh dari tatanan kehidupan yang sekularistik, hedonistic, dan mekanistik (merupakan implikasi serius dari perkembangan IPTEK masa kini). Pelajar Muslim sebagai objek dan subjek dalam gerakan IPM dalam mengembangkan potensi keilmuannya harus selalu berorientasi kepada kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara. Sebagai Pelajar yang telah menisbahkan diri sebagai aktifis IPM, maka sudah menjadi keseharusan bagi setiap kadernya untuk menambah khazanah keilmuan.

Memasuki usia yang ke 58 ikatan pelajar Muhammadiyah harus senantiasa menjaga keberlanjutan gerakan ipm itu sendiri yaitu ide, gagasan, pemikiran dan paradigma yang terus bergulir dalam tubuh ikatan pelajar Muhammadiyah itu sendiri. Dapat kita ketahui dalam sejarah IPM banyak mengalami transformasi paradigma gerakan sebagai bentuk respon terhadap relalitas yang selalu berubah. Mulai era orde baru, era orde baru II, era reformasi sampai era saat ini yakni era pasca reformasi.

Pelajar berkemajuan itulah gerakan yang dibawa saat ini. Meminjam konsep Fauzan A Sandiah (2016), era ipm yang baru bersandar pada dua kata kaunci yaitu berbagi dan berkolaborasi. Generasi berkemajuan hari ini ditandai dengan keberhasilan menemukan ruang diri (keunikan) yang selalu relevan dengan zaman. Generasi berkemajuan juga harus mampu “mendorong pada kebaikan, dan mencegah kemungkaran), membawa etos kolaborasi dan etos berbagi kekuatan untuk memperkuar proses transformasi social budaya, ekonomi dan politik.

Salah satu tantangan generasi berkemajuan saat ini perang identitas yang sangat kuat. Perang identitas yang sedikit banyak membelah masyarkat maupun pelajar khusunya, IPM harus segera memjawab tantangan ini. Menjadi penengah dan pemberi solusi terhadap berbagai macam masalah yang ada.

Pada milad kali ini pula ikatan pelajar Muhammadiyah membuat tema spirit kolaborasi untuk negeri,sebuah tema yang sedikit bisa mendinginkan suasana Indonesia yang sedang hangat-hangatnya dengan dinamika yang ada. Sebuah spirit bekerja sama (gotong royong) untuk memajukan Indonesia. Prinsip gotong royong harus selalu di gelorakan IPM agar dapat memperluas jangkauan gerakannya sehingga yang keberadaaan IPM dapat dirasakan masyarakat.Dengan spirit kolaborasi ini juga diharapkan mendorog karya nyata untuk bangsa yang pastinya.

Selamat milad ikatanku, terima kasih atas segalanya

Mengenal Literasi Berkeadaban

Mengenal Literasi Berkeadaban

Oleh: Sulistyo Suharto (Bendahara 2 PW IPM Jawa Tengah periode 2019-2021)

Menurut Alberta, arti literasi adalah kemampuan membaca dan menulis, menambah pengetahuan dan keterampilan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat mengembangkan potensi dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Definisi “literasi” ini semakna dengan definisi “Budaya Ilmu” yang digagas oleh pakar pendidikan Islam internasional, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud:

“Budaya ilmu antara lain bermaksud kewujudan satu keadaan yang setiap lapisan masyarakat melibatkan diri, baik secara langsung mahupun tidak langsung, dalam kegiatan keilmuan bagi setiap kesempatan. Budaya ilmu juga merujuk kepada kewujudan satu keadaan yang segala tindakan manusia baik di tahap individu, apatah lagi di peringkat masyarakat, diputuskan dan dilaksanakan berdasarkan ilmu pengetahuan, sama ada melalui pengkajian maupun syura. Dalam budaya ini, ilmu dianggap sebagai satu keutamaan tertinggi dalam sistem nilai pribadi dan masyarakat di setiap peringkat.” (Wan Mohd Nor Wan Daud, Budaya Ilmu (Satu Penjelasan), (Pustaka Nasional Pte-Ltd, Singapura, 2003), hlm. 34), hal ini serupa dengan gagasan besar dari ikatan pelajar muhammaadiyah yang mencita-citakan masyarakat ilmu.

Ikatan pelajar Muhammadiyah yang membawa Tradisi ilmu dalam konteks yang diterjemahkan didalam tanfidz Muktamar (2000), menegaskan bahwa IPM adalah gerakan yang memiliki visi keilmuan yang didasari pada pandangan mendasar terhadap keyakinan bahwa hakikatnya sumber ilmu di dunia ini adalah Allah swt. Konsekuensinya adalah perkembangan ilmu pengetahuan harus berawal dan mendapat kontrol dari sikap pasrah dan tunduk kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, misi IPM selalu berupaya Membangun Tradisi Keilmuan. Gerakan IPM membawa misi keilmuannya kepada tatanan kehidupan yang manusiawi dan beradab serta jauh dari tatanan kehidupan yang sekularistik, hedonistic, dan mekanistik (merupakan implikasi serius dari perkembangan IPTEK masa kini). Pelajar Muslim sebagai objek dan subjek dalam gerakan IPM dalam mengembangkan potensi keilmuannya harus selalu berorientasi kepada kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara. Dan potensi keilmuan pelajar dapat dikembangkan dalam komunitas yang memiliki tradisi keilmuan (Khoirudin, 2015)

Sebagai Pelajar yang telah menisbahkan diri sebagai aktifis IPM, maka sudah menjadi keseharusan bagi setiap kadernya untuk menambah khazanah keilmuan dengan “membudayakan literasi” serta membangun keadaban dengan perilaku yang ihsan.

Sedangkan istilah ‘berkeadaban’ atau ‘beradab’, berakar pada kata “adab”, yang oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas diartikan sebagai: “Pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajat tingkatan mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmaniah, intelektual, maupun rohaniyah seseorang.” (Al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Bandung : Mizan, 1984, hlm. 63)

Umar ibn al-Khattab r.a. juga menyatakan: “Taadabû tsumma ta‘allamû (beradablah kalian, kemudian raihlah ilmu). (Lihat, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, al-Ghunyah li Thâlibî Tharîq al-Haq, (Beirut:al-Maktabat al-Sya’biyah, tanpa tahun), hlm. 54).

Seorang ulama besar, Al-Laits Ibn Sa’ad memberi nasehat kepada para ahli hadits: “Ta’allamul hilm qablal ‘ilmi!” Belajarkah sikap penyayang sebelum belajar ilmu! Sedangkan Abdullah ibn Wahab rahimahullah menyatakan: “Mā ta’allamnā min adabi Malikin aktsaru min-mā ta’allamnā min ‘ilmihī.” (Apa yang kami pelajari tentang adab dari Imam Malik lebih banyak daripada yang kami pelajari tentang ilmunya). Abu al-Qasim al-Qusyairy (w 465 H) menyatakan dalam al-Risalat al-Qusyairiyah, bahwa esensi adab adalah gabungan semua sikap yang baik (ijtimâ’ jamî’ khisâl al-khair).

Oleh karena itu orang yang beradab adalah orang yang terhimpun sikap yang baik di dalam dirinya. Begitu pentingnya adab dalam Islam, sampai ulama besar, Abdullah Ibn al-Mubarak mengatakan, bahwa porsi adab dalam Islam adalah dua pertiganya (kādal adabu yakūnu tsulutsay al-dīni).

Apakah saat ini ‘budaya ilmu’ yang melandasi sejarah dan arah perjalanan ikatan pelajar Muhammadiyah , atau justru budaya yang berlawanan, yaitu ‘budaya jahil’. Jika terlalu banyak dana dihamburkan untuk berbagai hal yang bukan terkait dengan keilmuan, maka itu maknanya, budaya ilmu masih jauh dari tradisi bangsa kita. Dan sejarah menunjukkan, budaya jahil tidak pernah membangkitkan satu peradaban.
Tapi, budaya ilmu atau budaya literasi dalam Islam harus dilandasi dengan adab. Karena itulah, para ulama banyak menulis kitab-kitab tentang Adab dalam mengajar dan meraih ilmu. Tujuannya agar mereka menjadi manusia-manusia berilmu yang beradab.

Ikatan pelajar Muhammadiyah jawa tengah yang mengambil tema literasi berkeadaban, dengan tema Literasi Berkeadaban ini adalah bentuk upaya mentradisikan ilmu pada suatu tatanan masyarakat (khususnya Pelajar) yang berorientasi pada kecerdasan lahir dan batin. Secara lahir diartikan dengan adanya kultur keilmuan yang tinggi dan merata, adanya kompetensi dan kapasitas, adanya inisiatif dan partisipasi diberbagai bidang kehidupan. Secara batin diartikan dengan memiliki tauhid yang kuat dan dalam interaksi sosial mengedepankan akhlak yang mulia berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam.

Dalam konteks IPM, mengkampanyekan #literasiberkeadaban merupakan salah satu upaya dalam membangun kesadaran kolektif sehingga IPM melahirkan sosok-sosok teladan yang mampu menginspirasi dan menjadi role model bagi Pelajar secara umum dan masyarakat secara universal. Menjadi Pelajar yang terampil, berilmu, dan berakhlak mulia sesuai dengan visi besar ikatan.

Pada awal pagi
Dia mendaki gunung mencari kayu api
Sehingga larut malam
Dia menganyam selipar (daripada jerami padi)
Sambil berjalan
Dia tidak pernah berhenti membaca

Gerakan Spirit Kolaboratif Ramaikan Fortasi 2019

Gerakan Spirit Kolaboratif Ramaikan Fortasi 2019

Oleh : Sulistyo Suharto (Bendahara 2 PW IPM Jawa Tengah Periode 2019-2021)

IPM yang merupakan Organisasi Otonom Muhammadiyah selalu sibuk diawal tahun Pendidikan baru dengan gerakan Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (FORTASI). Fortasi IPM merupakan bentuk proses perkaderan paling dasar di organisasi ini yang dilaksanakan pada tataran grass-root (Ranting Sekolah/Pesantren). Inilah saat terbaik bagi para pimpinan untuk mengenalkan IPM kepada pelajar yang baru saja memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Peserta didik baru memerlukan proses adaptasi dan pengenalan di lingkungan barunya. Hal ini yang perlu dijadikan peluang bagi IPM untuk dapat menanamkan nilai-nilai dasar organisasi melalui kegiatan-kegiatan (klasikal, diskusi, simulasi, permainan, dll.) yang menyenangkan, inovatif dan kreatif. Fortasi IPM berlandaskan semangat ukhuwah islamiyah, karena semua siswa memiliki kedudukan yang sama, baik kakak kelas maupun peserta didik baru. Selain itu fortasi menjadi ajang menumbuhkan minat dan bakat peserta didik dari berbagai latar belakang sekolah. Fortasi dapat diisi dengan agenda-agenda kreatif seperti kegiatan pentas seni yang mengasah bakat dan minat siswa baru, kegiatan kelas, bazar, kampanye cinta buku, orasi, menanam pohon, kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah kegiatan unik dan inovatif lainnya yang sesuai dengan kultur daerah masing – masing. Penanaman nilai-nilai bukan hanya dalam bentuk penyampaian materi ataupun kegiatan namun juga melalui contoh-contoh yang baik dari kakak kelas yang selanjutnya menginspirasi peserta didik baru. Fenomena fortasi inilah yang selama bertahun – tahun mewarnai agenda awal tahun ajaran baru di Perguruan Muhammadiyah.

Dengan tema spirit kolaboratif ciptakan pelajar inovatif harapanya semua pelajar Muhammadiyah dapat menjadi bagian bersama masyarakat untuk bergerak bersama. Di sekolah, setiap siswa memiliki harapan-harapan baru untuk berkembang dan berprestasi. Semua siswa pun menginginkan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Suasana itulah yang akan mendorong semangat menuntut ilmu yang lebih baik. Menciptakan keadaan yang demikian tentu bukan hanya tugas dari guru atau pun karyawan selaku fasilitator pendidikan tapi juga seluruh pihak, tak terkecuali para siswa. Memunculkan sikap saling menghargai dan mengayomi perlu ditumbuhkan dalam suasana baru sekolah karena di sekolahlah para siswa akan menghabiskan hari-harinya dalam sepekan. Prinsip gotong royong harus selalu di gelorakan IPM agar dapat memperluas jangkauan gerakannya sehingga yang keberadaaan IPM dapat dirasakan masyarakat.

Saatnya bagi kita untuk menyatakan bahwa bullying ataupun segala bentuk perploncoan di lingkungan sekolah sama sekali tidak diperlukan baik selama FORTASI/PLS maupun selama kegiatan belajar mengajar di Sekolah. Atmosfer sekolah yang kita inginkan adalah suasana nyaman, menyenangkan, dengan semangat berkreasi inovatif. Hal ini bukan berarti komponen pendidik tidak boleh bersikap tegas tehadap peserta didik yang benar-benar melakukan pelanggaran. Baik pelanggaran etika (tidak sopan, tidak disiplin, dll.) maupun bentuk-bentuk penyimpangan lain yang berat, semisal palanggaran moral hingga kriminal. Namun, sanksi yang diberikan pun harus bersifat edukatif dan menyadarkan, bukan hukuman yang menimbulkan derita berkepanjangan secara fisik dan psikis bagi peserta didik. Maka, IPM mengajak seluruh pelajar di Indonesia untuk mengawal pelaksanaan Fortasi di perguruan Muhammadiyah maupun PLS di sekolah umum yang bermartabat, sehat, asyik, gotong royong , berbasis kegiatan kreatif, dan berkesinambungan di seluruh instansi pendidikan. Sehingga seluruh elemen pendidikan mampu mengawal sekolah yang aman dan jelas bebas dari segala bullying maupun bentuk perpeloncoan yang menurunkan harkat martabat instansi pendidikan. Dan harapanya dengan fortasi ini menciptakan generasi- generai inovatif pemberi solusi untuk negeri.

EKSPEDISI 58 : Hadiah PW IPM JATENG dalam Milad IPM ke 58

EKSPEDISI 58 : Hadiah PW IPM JATENG dalam Milad IPM ke 58

ipmjateng.or.id, Wonosobo – Dalam rangka menyemarakkan Milad Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ke 58, Pimpinan Wilayah Ikatan PelajarMuhammadiyah (PW IPM) Jawa Tengah mengadakan Ekspedisi 58 yang dipelopori oleh Bidang Apresiasi Seni Budaya dan Olahraga (ASBO) PW IPM Jateng. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari yaitu Kamis, (11/7) – Jumat, (12/7) dan diikuti sebanyak 62 peserta.

EKSPEDISI 58 tersebut merupakan kegiatan Pendakian Gunung Prau secara bersama-sama yang diikuti oleh kader kader IPM dan dikawal langsung oleh teman-teman PW IPM Jawa Tengah.

Sebelum melakukan pendakian, peserta berkumpul terlebih dahulu di Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Wonosobo untuk melakukan registrasi dan diberikan arahan terlebih dahulu oleh PW IPM Jateng. Kemudian, pendakian dimulai pukul 09.30 WIB malam hari dan sampai POS 3 pukul 01.30 dinihari. Dipos 3 tersebut peserta diberikan waktu untuk beristirahat sebelum melanjutkan pendakian ke Puncak Gunung Prau pukul 05.00 pagi.

Rangkaian kegiatandari EKSPEDISI 58 tersebut adalah Sholat Shubuh dan Sholat Jumat Berjamaah di POS Pendakian,Ngaji Bersama, Pembuatan Video Milad IPM ke 58, serta Pengkibaran Bendera IPM.

“EKSPEDISI 58 ini adalah bentuk antusias dalam menyemarakkan Milad IPM ke 58 ini dan merupakan hadiah sebagai simbol kecintaan kami terhadap IPM. Dengan adanya kegiatan ini, semoga kedepannya bias menjadi inspirasi bagi kader-kader IPM dengan harapan kami bias memberikan banyak kebermanfaatan,” jelas Agam Setyo Bakti selaku Ketua Bidang ASBO PW IPM JATENG. *(indi)

Dialog dan Sosialisasi bersama Kesbangpol Prov Jawa Tengah

Dialog dan Sosialisasi bersama Kesbangpol Prov Jawa Tengah

ipmjateng.or.id, Magelang – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) Provinsi Jawa Tengah kerjasama Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Tengah dan beberapa Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) sekolah se-Kota Magelang. Dalam kegiatan Dialog dan Sosialisasi tentang Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Pengadar Gelap Narkotika pada Selasa, (9/7) di Hotel Safira Kota Magelang.

Diundangnya PW IPM Jawa Tengah dan perwakilan Pelajar Muhammadiyah se-Kota Magelang dalam Dialog dan Sosialisasi tersebut merupakan bentuk kerjasama antara KESBANGPOL dan PW IPM Jawa Tengah dalam rangka mengurangi angka penyalahgunaan NARKOBA di Jawa Tengah, khusunya bagi pelajar sendiri.

Dalam acara dialog dan sosialisasi tersebut ada tiga inti materi yang dibahas, yaitu Tentang Fakta dan Realita Terhadap Penindakan Penyalahgunaan Peredaran Gelap NARKOBA dalam Penguatan P4GN di Jawa Tengah oleh Direktur Resese NARKOBA POLDA Jawa Tengah. Kedua, Generasi Muda yang Bebas dan Bersih dari NARKOBA oleh Dosen Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Magelang. Dan yang terakhir tentang Mewujudkan Generasi Muda yang Berakhlak, Berprestasi, dan Berkarakter Positif Tanpa NARKOBA oleh relawan Mitra P4GN Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dalam sambutannya, bapak Siswadi Suryanto, S.H, M. Hum selaku Ketua Bidang Ketahanan Bangsa Badan KESBANGPOL Pemprov Jawa Tengah “Jawa Tengah saat ini darurat narkoba, selain itu narkoba sendiri banyak menyerang kalangan pelajar. Maka dari itu KESBANGPOL berkerjasama dengan IPM Jawa Tengah untuk membantu kita dalam mengurangi narkoba, mudah-mudahan dengan acara ini bisa melahirkan para Duta Anti Narkoba di kalangan pelajar khususnya pelajar Muhammadiyah,” *(rohman)

Pasca Pelatihan MADVO : Membentuk Agen Filantropi di Masing-Masing Sekolah

Pasca Pelatihan MADVO : Membentuk Agen Filantropi di Masing-Masing Sekolah

ipmjateng.or.id, Banjarnegara – Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kabupaten Banjarnegara menyelenggarakan kegiatan Madrasah Advokasi pada Jumat (5/7) – Sabtu (6/7) di Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Banjarnegara.

Dalam Pelaksanaannya kegiatan tersebut diikuti oleh 25 peserta yang merupakan perwakilan dari beberapa Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) SMA/MA/SMK dan SMP/MTs Muhammadiyah se-Kabupaten Banjarnegara.

Bertemakan “Terwujudnya IPM yang Peduli Sosial”, pada kegatan Madrasah Advokasi tersebut peserta diberikan materi tentang Orientasi, Startegi dan Teknih Advokasi, Managemen Isu, Konflik, Teknik Lobbiying dan Retorika, Alat Analisis Permasalahan, dan Sekolah Aman Bencana. Selain materi, disini peserta diajarkan board game dan simulasi kebencanaan.

Madrasah Advokasi tersebut yang merupakan program kerja dari Bidang Advokasi PD IPM Banjarnegara memiliki output dimana para alumni menjadi agen filantropi di sekolah masing- masing. Dimana agen tersebut diberikan kaleng filantropi yang setiap bulannnya disetorkan kepada PD IPM banjarnegara yang dimana hasilnya akan disalurkan kepada Asrama Pelajar Muhammadiyah (APELMU) yang dikelola oleh PD IPM Banjarnegara sendiri.

“Pada Madrasah Advokasi kali ini ada dua point yang akan disampaikan kepada peserta yaitu Pelajar Peduli Sosial dan tentang Kebencanaan. Dimana bisa kita lihat kasus pelajar sangatlah banyak dan belum bisa secara tuntas teratasi, dengan Madvo ini harapannya teman-teman bisa mengambil peran dalam kasus pelajar disekolah kalian masing-masing. Dan tentang Kebencanaan, seperti yang kalian ketahui sendiri dimana Banjarnegara adalah daerah yang rawan akan terjadinya bencana, terutama bencana alam. Setelah pelatihan ini selesai harapannya teman-teman menjadi pelajar yang peduli akan kebencanaan dan bisa mengambil peran baik dari segi pencegahannya, pada saat bencana terjadi, ataupun pasca kebencanaan,” jelas Muhammad Ibnu Mas’ud selaku Ketua Umum PD IPM Banjarnegara. *(indi/roh)