Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; force_gzip has a deprecated constructor in /home/ipmjaten/public_html/wp-content/plugins/force-gzip/force-gzip.php on line 51
Pelajar Penangkal Hoaks
Warning: A non-numeric value encountered in /home/ipmjaten/public_html/wp-content/themes/Divi/functions.php on line 5837

Oleh : Muhammad Arief Sitegar S.E.I.,
Anggota Bidang Organisasi PW IPM Jawa Tengah

Perkembangan informasi saat ini bagaikan “air bah” yang menerjang dahsyat. Tiap harinya, berbekal alat ajaib bernama gawai (gadget) masyarakat dengan mudahnya mendapat informasi maupun ikut menyebarkan informasi yang diterima. Ketika kita menengok masa lampau sebuah berita disampaiakan melalui alat yang sangat sederhana, misalnya daun lontar untuk menulis surat, kentongan untuk memberi tanda kondisi lingkungan, merpati pengirim surat dan lain sebagainya. Karena masih sangat sederhana berita yang disampaikan membutuhkan waktu yang cukup lama. Bandingkan dengan zaman “now”, berita bahwa di Mekkah (Arab Saudi) sedang turun hujan, setengah menit kemudian dapat diketahui oleh masyarakat Indonesia. Padahal dahulu seorang pergi haji ke Mekkah membutuhkan waktu berbulan – bulan untuk berlayar samudra.

Pelajar adalah lentera yang menjadi suluh terang diantara gelapnya malam. Berbekal  ilmu menggempur tembok kebodohan. Menyangkut zaman “banjir bandang” berita saat ini, pelajar menjadi harapan untuk menjernihkan zaman. Bukan orang ramai tidak mengetahui suatu hal, namun rendahnya daya kritis dan perasaan simpati berlebihan yang membuat menjamurnya berita hoaks (bohong). Keberpihakan membuta terhadap suatu yang dianggap sejalan dengan dirinya, lantas di sebar tanpa memperhatikan kebenaran berita tersebut. Seorang pendukung keharaman vaksin (imunisasi) lantas menyebarkan berita imunisasi yang belum jelas sumbernya dan dianggap sebagai kebenaran mutlak. Padahal jika tidak disikapi dengan bijak program pemerintah untuk mencegah anak terserang penyakit tertentu menjadi gagal dan berdampak pada masyarakat lain. Sebagai contoh di tahun 2018 terdapat kasus,  2 orang anak meninggal karena penyakit difteri. Diketahui bahwa kedua orang tua anak tersebut tidak melakukan vaksinasi kepada anaknya (KOMPAS.COM : 20/7/18). Selain itu panasnya tensi politik di tahun 2019 tak jarang membuat berita hoaks menjamur dengan tujuan menyerang salah satu pihak lawan politiknya.

Orang Tua Latah Berita

Peralihan zaman memasuki era digitalisasi informasi membuat sebagian golongan tua kaget. Dimasa mudanya yang ada hanya telephone yang dapat hanya menyalurkan komunikasi suara. Saat ini ada gawai (android), dengannya pesan teks, audio dan visual sangat mudah disebarkan. Melalui perantara aplikasi WhatApp, Facebook dan lainnya para orang tua “terkaget” dengan unik serta menariknya informasi. Karena dianggap menjadi suatu yang bermanfaat lantas tanpa pikir panjang semua komunitas daring (online) yang diikuti, ikut menyimak berita yang disebarkannya tersebut. Padahal penulis berita dan sumber yang bertanggung jawab tidak jelas. Namun karena kategori berita yang menggugah simpati maka sumber berita menjadi terabaikan. Perasaan berlebihan dalam menyikapi berita yang menjadi sebab. Hal ini juga diakibatkan karena minimnya penguasaan penggunaan fitur gawai yang dimiliki. Berbeda dengan kalangan muda yang lebih berpengalaman menggunakan alat, mereka lebih kritis dan tidak mudah “kagetan” terhadap informasi yang diterima.

Islam Melarang Hoaks

Tergesa-gesa dalam menyebar berita menjadi salah satu penyebabnya maraknya berita hoaks. Hal ini memunculkan suatu kerusakan, provokasi, ketakutan atau kebingungan. Padahal Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas mengatakan,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar.” (HR. Muslim no.7)

Sehingga sikap tergesa-gesa menjadi hal yang tidak baik, karena merupakan perbuatan yang datangnya dari setan.

التَّأَنِّي مِنَ اللهِ , وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.” (HR. Al – Baihaqi)

Agama Islam telah mewanti umatnya untuk berhati-hati dalam menerima sebuah berita. Perlunya suatu pengecekan kebenaran berita yang diterima apakah valid atau hanya dibuat menarik untuk menjadi viral. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk memeriksa suatu berita dengan teliti, yaitu mencari bukti-bukti kebenaran berita tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan menelusuri sumber berita, atau bertanya kepada orang yang lebih mengetahui hal itu.

Peran Pelajar Tangkal Hoaks

Pelajar memupuk dirinya dengan nutrisi ilmu yang didapatknnya di sekolah ataupun buku. Dari guru dan sanak kerabat yang gemar berdiskusi manfaat. Sebagai bagian dari masyarakat, pelajar harus memberikan pencerahan kepada lingkungannya, tentang bahaya berita hoaks. Dengan cara kreatif dan tetap mengedepankan adab, pelajar diharapkan menyebarkan pengetahuan untuk kesadaran bahaya berita hoaks. Masyarakat susah membedakan berita hoaks dengan yang tidak adalah karena minimnya budaya literasi dan minat baca yang rendah. Peran pelajar menangkal hoaks dapat dilakukan dengan memaparkan kriteria berita hoaks, kampanye stop hoaks, dan membuat regulasi diskusi online yang mencegah merebaknya hoaks.

Menurutu Suwarjono, Ketua Asosiasi Jurnalis Independen Indonesia (AJI) masyarakat dapat mengenal hoaks dengan melihat 5 kriteria sebagai berikut: pertama, berita hoaks cenderung mengandung judul yang provokatif, “mengompori” yang tujuannya untuk mendorong pembaca membuka berita tersebut di media sosial. Kedua, nama situs media penyebar berita biasanya mirip dengan media besar yang sudah ada, seringkali juga dengan nama baru yang tidak jelas. Ketiga, adalah kontennya cenderung berisi opini, tidak jelas sumber beritanya dan minim fakta. Keempat, berita hoaks seringkali menggunakan foto yang menipu, tujuannya sebagai foto ilustrasi namun sering tidak relevan dengan keterangan fotonya. Kelima, akun sosial media yang digunakan untuk menyebar berita biasanya baru dibuat, kloningan, abal-abal dan tidak jelas.

Kampanye adalah sebuah tindakan yang bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan dari berbagai pihak dengan cara memberi suatu pengaruh. Dengan sebuah kampanye, usaha untuk menangkal berita hoaks dapat disuarakan oleh banyak pihak. Gerakan ini dapat menggunakan bermacam-macam sarana, pamflet ,poster, video dan berbagai media lainnya. Kampanye dapat menumbuhkan kesadaran bersama sehingga saling mengajak untuk memerangi berita hoaks dapat dialakukan lebih efektif. Keberadaan komunitas daring (online), baik dari aplikasi WhatsApp atau sosial media lainnya tak jarang menjadi ladang subur tumbuhnya berita hoaks. Diperlukan suatu tata tertib yang disepakati oleh anggota komunitas. Aturan ini demi menekan persebaran berita yang tidak jelas sumbernya. Anggota grup diharuskan membagikan berita hanya dari yang jelas sumbernya.

Pelajar menjadi harapan bangkitnya budaya literasi Indonesia yang lebih baik. Dimulai dengan membaca buku, berlatih menulis gagasan dan mengetahui cara efektif menyebarkan gagasannya adalah proses yang dinanti untuk wujudnya Pelajar Indonesia Berkemajuan.